Kamis, 14 Juli 2011

Kura-Kura yang Selamat dari Bencana Meteor

Source: Cara Membuat Share Button Untuk Blog | Official Blog Of ZAS-XP http://zas-xp.blogspot.com/2011/05/cara-membuat-share-button-untuk-blog.html#ixzz1UUrA29tG Under Creative Commons License: Attribution

Kura-Kura yang Selamat dari Bencana Meteor
Brian T. Roach, Yale Peabody Museum
 
Kura-kura Boremys yang selamat dari tabrakan meteor yang melenyapkan dinosaurus sepertinya sama sekali tidak terpengaruh oleh bencana besar itu. Demikian menurut hasil studi yang dilaporkan dalam Society of Vertebrate Paleontology.

Menurut Walter Joyce dari University of Tubingen, kura-kura air mampu bertahan karena kemampuan alami untuk bertahan dalam kondisi berat. "Ketika temperatur terlalu dingin, mereka melakukan hibernasi. Ketika terlalu panas atau kering, mereka akan menggali lubang dalam lumpur dan menunggu kekeringan lewat," jelas Joyce. "Rupanya kemampuan itu juga berguna ketika tabrakan meteor 65 juta tahun yang lalu," tambah Joyce.

Berdasarkan fosil yang ditemukan di Hell Creek dan Fort Union di barat daya Dakota Utara dan sebelah timur Montana, ilmuwan menerka Boremys hidup 80 hingga 42 juta tahun yang lalu. Spesies yang mereka temukan menyukai daerah rawa di sekitar sungai tropis.

Boremys memakan tanaman lunak, moluska kecil, serangga dan ikan. Boremys terkecil memiliki panjang 25 sentimeter, sedangkan yang terbesar bisa mencapai 80 sentimeter.

Boremys tidak memiliki hubungan dekat dengan kura-kura modern. "Tetapi, mereka punya kebiasaan yang sama dengan kura-kura modern," jelas peneliti.

Saat meteor menabrak Bumi 65 juta tahun yang lalu, sebagian besar spesies dinosaurus yang punah. Sebagian lagi mengalami kehilangan individu dalam jumlah yang sangat besar. Sementara beberapa jenis lain, seperti kura-kura Boremys, mampu selamat. "Hewan-hewan besar mati dalam jumlah ribuan. Sementara itu amfibi, seperti kodok dan salamander, juga reptil, masih bisa bertahan karena mereka punya teknik yang membantu mereka hidup di kondisi sulit," kata Joyce.

Joyce juga menambahkan, hewan yang selamat masih harus menghadapi masalah. "Mereka tidak selalu mampu bertahan dari pemangsa," katanya.

Kura-kura modern saat ini pun menghadapi masalah itu. "Ironis, hewan yang sudah ada sejak 220 juta tahun yang lalu sekarang hampir punah karena aktivitas manusia. Mereka selamat dari asteroid, tapi tidak selamat dari spesies kita," kata James Parham, peneliti dari Field Museum of Naturan History. 
 
(Sumber: Discovery News)

Menyelami Harmoni Kehidupan Torosiaje Laut

Source: Cara Membuat Share Button Untuk Blog | Official Blog Of ZAS-XP http://zas-xp.blogspot.com/2011/05/cara-membuat-share-button-untuk-blog.html#ixzz1UUrA29tG Under Creative Commons License: Attribution


Posted by hafidznovalsyah on March 21, 2011
Dua perahu melintasi horizon pagi
Dua perahu melintasi horizon pagi
Siang itu, tepat di hari pertama tahun 2011, matahari terik menyinari pesisir Gorontalo dengan diselingi angin laut yang melambaikan barisan nyiur. Musik daerah Gorontalo yang berdendang keras di dalam mobil membuat saya tetap terjaga dalam perjalanan yang cukup melelahkan menyusuri jalan trans-selatan dari Kota Gorontalo ke Popayato. Tak bisa dipungkiri, penat sangat terasa karena saya harus duduk memangku tas kamera saya yang penuh selama hampir enam jam di dalam kendaraan umum jenis L300 yang ditumpangi sebelas orang dewasa plus empat anak-anak, penuh sesak!
Selepas melewati Tilamuta, pemandangan Pantai Bolihutuo dan Pantai Libuo yang indah terlihat dari dalam mobil yang melaju kencang, seolah mengintip dari sela-sela pepohonan yang berkelebat terlewati. Cukup menghibur dan serasa sebuah janji yang melambungkan harapan saya akan indahnya pemandangan perkampungan laut Suku Bajo di Torosiaje Laut, di ujung perjalanan ini.
Menjelang sore satu demi satu penumpang turun di tujuannya masing-masing, hanya menyisakan tiga orang penumpang, yaitu saya, pemandu saya, Ridwan, dan seorang bapak berumur sekitar separuh baya. Bapak itu mencairkan suasana dengan bertanya ramah kepada saya, “Mau pergi ke mana?”. “Ke Torosiaje Laut”, jawab saya ramah. Kemudian beliau mengatakan sesuatu dalam bahasa daerah Gorontalo kepada sopir, lalu tersenyum memandang saya. Saya yang tidak mengerti apa yang dibicarakan hanya membalas senyum, meski bingung. Tidak lama kemudian bapak itu turun di pinggir jalan, lalu angkutan kembali melaju kencang. Hingga akhirnya dari dalam mobil saya melihat papan bertuliskan “Terminal Popayato” (yang seharusnya menjadi tujuan kami) terlewati, saya pun setengah berteriak (karena suara musiknya sangat keras) mengingatkan si sopir. Sambil tersenyum si sopir menjawab bahwa bapak tadi yang merupakan penumpang langganannya meminta ia untuk mengantar kami langsung ke dermaga yang menuju ke Torosiaje Laut. Saya mengucapkan terima kasih dan ingin sekali rasanya mengucapkan terima kasih ke bapak tadi atas keramahtamahnnya yang sangat membantu kami.
Dermaga yang kami tuju ternyata merupakan dermaga sederhana. Ada satu warung makan sederhana dengan teras berdinding kayu di satu sudut tanah lapang yang ada di situ. Sebentuk bangunan kecil yang berfungsi sebagai loket masuk berada di sisi lainnya dan menjadi seperti pintu masuk menuju ke semacam jalan kecil beralas kayu. Di situlah kami bertemu dengan Jacko, penduduk yang biasa menyambut tamu yang berkunjung ke Torosiaje Laut.
Kami segera meloncat hati-hati berpindah ke perahu Jackson yang saat itu memakai kaos hitam bertuliskan “Ilmu Bajo”. “Tidak sampai setengah jam kita akan sampai di Torosiaje Laut, Kampung Suku Bajo!” serunya bangga. Panasnya menyeberang laut dengan perahu tanpa atap tidak lagi saya hiraukan. Hijau segar daun tanaman bakau dan langit yang terpantul biru di laut membius saya untuk mulai memotret. Saya berkata pada diri saya sendiri, “petualangan yang sebenarnya baru dimulai!”
Lamat-lamat terlihat rumah-rumah berjajar, seolah mengapung di horizon permukaan laut. Semakin perahu mendekat, terlihat rumah-rumah itu seperti meninggi. Akhirnya jelas terlihat dengan gagahnya perkampungan rumah panggung yang berdiri kokoh di atas laut dangkal.
Sebuah “jembatan” yang merupakan gang penghubung antarsisi kampung layaknya gapura kami terobos dari bawahnya, sejumlah warga sedang melintasi di atas jembatan itu tersenyum melihat kami (terutama mungkin saya yang sibuk memotret dengan berdiri di atas perahu kecil dan Jacko yang kerepotan menyeimbangkan perahu). Tata letak kampung ini seperti huruf U besar yang menghadap ke arah laut yang sejatinya ialah Teluk Tomini. Perahu-perahu berlalu lalang silih berganti, ada yang masih menggunakan dayung, ada pula yang sudah menggunakan mesin tempel. Saya takjub. Bersambung.
(Artikel ini juga dimuat dalam majalah National Geographic Traveler-Indonesia Vol. 3, No. 3, 2011).
Merangkai bambu bakal keramba ikan
Merangkai bambu bakal keramba ikan
Jalan penghubung antar rumah
Jalan penghubung antar rumah
Mencari kerang
Mencari kerang
Belanja terapung
Belanja terapung
Suasana malam
Suasana malam
Kepiting dan kerang berbagi tempat di tiang rumah
Kepiting dan kerang berbagi tempat di tiang rumah
Bendera putih keramat berada di pusat kampung
Bendera putih keramat berada di pusat kampung


sumber : national geographic indonesia

Rabu, 13 Juli 2011

Kreasi Lego Bata Yang Luar Biasa

Source: Cara Membuat Share Button Untuk Blog | Official Blog Of ZAS-XP http://zas-xp.blogspot.com/2011/05/cara-membuat-share-button-untuk-blog.html#ixzz1UUrA29tG Under Creative Commons License: Attribution


untuk Nathan Sawaya ia memilih untuk membangun seni menakjubkan dari blok bangunan mainan. LEGO bata tepatnya. Mantan pengacara perusahaan berhenti dari pekerjaannya pada tahun 2001 untuk berfokus pada menjadi terkemuka di dunia LEGO artis. Dengan lebih dari 1,5 juta batu bata berwarna di New York studio, Sawaya's patung mengambil banyak bentuk.







Seni Sawaya saat ini sedang tur Amerika Utara museum di sebuah pertunjukan berjudul, The Art of the Brick. Ini satu-satunya pameran memfokuskan perhatian secara eksklusif pada LEGO sebagai media seni. Penciptaan, dibangun dari hampir satu juta keping, dibangun dari batu bata standar sejak awal 2002. Informasi lebih lanjut tentang tur, tanggal dan lokasi dapat ditemukan di sini.








A full-time freelance artis, Sawaya menerima komisi dari individu, perusahaan, dan ... baik hanya tentang siapa saja yang memiliki ide yang baik! Jadi mari Sawaya tahu apa yang ada dalam pikiran, ia mengatakan, bahwa ada harfiah ada batas untuk apa yang dapat membuat keluar dari LEGO.
berbagai sumber

Kreasi Pensil Yang Keren

Source: Cara Membuat Share Button Untuk Blog | Official Blog Of ZAS-XP http://zas-xp.blogspot.com/2011/05/cara-membuat-share-button-untuk-blog.html#ixzz1UUrA29tG Under Creative Commons License: Attribution
































Golden Jets, Bukti Teknologi Pesawat Terbang Peradaban Inca Kuno

Source: Cara Membuat Share Button Untuk Blog | Official Blog Of ZAS-XP http://zas-xp.blogspot.com/2011/05/cara-membuat-share-button-untuk-blog.html#ixzz1UUrA29tG Under Creative Commons License: Attribution


Selama ini, berbagai artifak-artifak misterius telah ditemukan di berbagai belahan dunia dengan bentuk dan fungsi yang masih diperdebatkan.

Salah satunya adalah artifak yang diduga berbentuk mirip pesawat yang ditemukan di Mesir, yaitu Saqqara Bird.

Meskipun telah diteliti dan secara desain Saqqara bird tidak mampu untuk terbang jauh, namun desainnya yang mengacu kepada desain pesawat modern telah menimbulkan berbagai spekulasi mengenai asal usul artifak ini.



Lalu,apakah artifak serupa hanya ditemukan pada peradaban Mesir kuno? Ternyata tidak, peradaban Prekolombia yang pernah eksis ribuan tahun yang lalu ini juga memiliki artifak dengan bentuk serupa.

Entah apa yang terjadi pada masa lampau sehingga berbagai artifak misterius ditemukan dengan fungsi yang tidak jelas, dan salah satunya adalah artifak ini.

Sebuah artifak berupa perhiasan emas ditemukan di sebuah tempat di wilayah Amerika Tengah dan Selatan, sayang tidak ada keterangan pasti dimana lokasinya.

Artifak tersebut terbuat dari emas, dan diperkirakan telah berumur lebih dari 1000 tahun, karena peneliti tidak dapat memastikan kapan artifak tersebut dibuat.

Pada tahun 1954, Pemerintah Kolombia mengirimkan koleksi artifak emasnya kepada sejumlah museum di Amerika Serikat.

Selama berada di Amerika, seorang pengusaha berlian terkaya di wilayah itu ingin membuat replikanya dan mencoba untuk mengungkap misteri yang tersembunyi dalam setiap artifak tersebut.

Salah satu artifak tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang zoologist bernama Ivan T. Anderson untuk diteliti.

Ketika melihat desain benda tersebut, Ivan teringat akan bentuk pesawat terbang, kemudian ia meminta pendapat dari seorang ahli aerodinamis pesawat terbang asal Aeronautical Institute of New York, Dr. Arthur Poyslee.

Dari hasil investigasinya, memang benda tersebut memiliki kemiripan dengan desain pesawat terbang modern, dan bentuk sayapnya tidak mirip dengan hewan manapun di dunia, namun belum dapat dipastikan apakah artifak tersebut menggambarkan desain pesawat terbang masa lampau, karena masih membutuhkan penelitian yang lebih jauh lagi.


Artifak yang berukuran kurang lebih 2 inchi tersebut diperkirakan berasal dari peradaban Sinu, Chimu, atau Mochica, yaitu peradaban Inca kuno yang eksis pada tahun 500 samapi 800 sebelum masehi.

Kembali pada desain benda ini, menurut Dr. Arthur, jika artifak ini adalah merepresentasikan hewan, maka penempatan bagian sayap dalam benda ini salah karena pusat gravitasinya tidak akan sesuai sehingga tidak memungkinkan untuk terbang.

Sebaliknya, konfigurasi sayap depan dan belakangnya sangat ideal untuk mesin jet berkecepatan tinggi seperti desain pesawat Concorde! meski hanya berupa gambaran saja.

Apakah peradaban masa lampau sudah memikirkan aspek aerodinamis segala, sampai-sampai pesawat concorde pun menggunakan desain serupa?



Jika kita perhatikan, memang sekilas artifak tersebut berbentuk mirip dengan sejenis hewan, walaupun ekornya aneh. Para arkeolog menyebut artifak ini sebagai zoomorphic objects, yaitu benda yang berbentuk seperti hewan.

Tetapi, jika memang bentuknya mirip hewan, lalu, hewan apakah itu? Jika dilihat dari bentuk kepala, tubuh, serta bagian yang mirip dengan sayap, mungkin benda ini bentuknya mirip dengan sejenis ikan terbang, namun dengan bentuk ekor yang berbeda.

Bentuk ekornya memang sangat mirip dengan bentuk ekor pesawat terbang modern, coba bandingkan bentuk ekor benda ini dengan ekor pesawat terbang.

Walaupun kelihatannya memaksa, tetapi pada bagian ekornya, juga terdapat tailplane yang biasanya terdapat pada pesawat modern.




Sementara itu, para peneliti yang lain masih sibuk dengan cara kerja dan aspek aerodinamis pada artifak ini.

Mereka berpendapat jika benar artifak ini adalah sebuah rancangan pesawat terbang, maka benda ini tidak akan bisa terbang karena desainnya yang tidak memungkinkan.

Namun, mereka menemukan sesuatu dalam artifak ini. Pada bagian kepala dan tubuhnya, terdapat celah misterius yang belum diketahui fungsinya.

Beberapa peneliti berpendapat jika celah tersebut adalah mekanisme dari banda ini agar bisa terbang, dan inilah mekanisme yang mereka maksud.


Anggaplah jika para peneliti itu benar, dengan mekanisme seperti itu, apakah benda ini bisa terbang?

Enam artifak serupa juga dipajang di Chicago Field Museum of Natural History. Sedangkan, dua artifak lain disimpan di Smithsonian Museum of Natural History dan Museum of Primitive Art in New York City.

Artifak yang tersimpan dalam Museum Chicago dikatakan memiliki desain yang lebih detail dibandingkan dengan artifak yang lain.



Sementara itu, Ivan sangat yakin jika artifak-artifak tersebut adalah bukti nyata tentang kemajuan peradaban modern. Seperti yang ia katakan,

“The concrete evidence that the ancients knew of flight was forced upon us only a few years ago. Now we have to explain it. And when we do we will have to rearrange a great many of our concepts of ancient history.”

Terlihat ia sangat yakin jika artifak tersebut adalah bukti bahwa desain pesawat terbang modern telah ditemukan sejak ribuan tahun yang lalu.

Tetapi, tentu saja banyak yang meragukan statement Ivan itu. Mereka yang tidak setuju dengan pendapat Ivan, mengatakan jika mereka (Ivan cs.) terlalu cepat menyimpulkn bahwa artifak tersebut adalah desain pesawat terbang modern tanpa dilakukan penelitian lebih lanjut.

Teori tanpa pembuktian memang tidak lebih dari "omong kosong" belaka. Berbeda dengan Saqqara Bird yang telah diteliti dan sampai dibuat replikanya oleh ahli desain glider bernama Martin Greorie, Artifak Inca yang tidak bernama ini belum juga dibuktikan kebenarannya jika memang benda tersebut adalah sebuah pesawat terbang kuno.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika artifak tersebut tidak lebih dari sebuah perhiasan masa lampau jika dilihat dari sisi artistiknya.

Coba deh perhatikan dengan seksama, pasti kita akan melihat ukiran-ukiran pada bagian sayap, kepala,dan ekor benda ini.

berbagai sumber